Pepaya, pastilah orang kita Indonesia sudahlah tidak asing dengan buah satu ini, terlebih lagi kita hidup di wilayah tropis yang memang merupakan iklim yang cocok untuk tanaman satu ini tumbuh. Tanaman yang memiliki nama latin Carica papaya ini, sebenarnya tidak berasal dari asia tenggara, melainkan dari negeri nan jauh di barat tepatnya di Meksiko, dan beberapa spesiesnya juga tersebar di Amerika selatan.
Mungkin kita sering menemui soal dan pertanyaan "Sebutkan 5 contoh tanaman dikotil!" di bangku sekolah saat mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Maka bisa saya pastikan tidak banyak dari kalian yang akan menjawab pepaya sebagai salah satu dari kelima tanaman tersebut, kebanyakan guru pasti akan salah kaprah dan mengira jawaban itu salah, karena menurut mereka pepaya adalah tanaman monokotil dengan alasan batangnya yang lunak (tidak berkambium). Namun apakah memang benar seperti itu?
Nyatanya pepaya adalah tanaman dikotil jika kita telaah lebih dalam lagi dengan memperhatikan kharakteristiknya yang lain. Kita mulai saja dari bagian paling bawahnya, yakni akarnya. Akar pepaya merupakan akar tunggang yang memiliki bentuk yang panjang keras serta lebih kokoh. Ini saja sudah dapat membedakan antara monokotil dan dikotil. Yang kedua, batangnya, apakah batang pepaya mengandung kambium? jawabannya IYA, kita bisa membuktikannya dari mulai banyaknya perkembangbiakan tanaman pepaya dengan cara vegetatif yakni memakai metode cangkok (grafting) dan bisa juga dengan cara stek, Loh! Seperti pada gambar dibawah ini.
Bukti ketiga jika pepaya itu adalah tanaman monokotil adalah bisa kita lihat dari bunganya yang memiliki 5 kelopak, yang mana kita ketahui tanaman dikotil adalah tanaman yang memiliki kelopak bunga pada kelipatan 2,4, dan 5. Bunga yang dimaksud tersebut adalah bunga jantan, bunga betina, maupun bunga sempurna/banci (hermaprodit) pada bunga pepaya. Bukti keempat! Adalah daunnya yang berbentuk menjari, tidak ada daun pepaya yang melengkung, jadi ini sudah kuat buktinya jika pepaya adalah tanaman dikotil, eitss tak cukup sampai pada bukti keempat! Bukti kelima, adalah pada bijinya yang bisa dibelah menjadi dua, karena memiliki dua kotileden.
Lalu apa? Alasan yang mengakibatkan seringnya orang salah paham mengenai pepaya adalah tanaman monokotil? Kenapa banyak yang salah kaprah mengenai tanaman satu ini, ada beberapa alasan berdasarkan asumsi dan tesis saya bahwa orang-orang memikirkan tanaman dikotil sebagai tanaman dengan batang yang lembek dan berair, sama halnya dengan pisang. Pepaya memiliki batang dan ranting yang lembek, lunak dan berair, tidak seperti tanaman dikotil yang keras lainnya seperti halnya mangga, rambutan, dan jambu. Karena apa batangnya lembek? Karena pepaya yang anda temui tersebut masihlah tanaman muda dan pepaya yang masih anakan, berarti umurnya belum tua, di alam liar sendiri pepaya dapat mencapai ukuran yang masif dengan tinggi mencapai 5 - 10 meter. Nahh, sementara pepaya yang tumbuh liar (tidak ada yang mengurus, kemungkinan bijinya terjatuh dan tersebar oleh bantuan kelelawar/burung) di Indonesia sering mati di usia muda sebelum bisa mencapai fase dewasa karena akarnya busuk disebabkan curah hujan yang berlebihan di negara tropis seperti kita, lain halnya dengan pepaya di perkebunan yang kita lihat sudah tanaman hybrid dan sudah dimutasi genetik, agar lebih pendek.
Namun, berdasarkan pengamatan saya terhadap pohon pepaya saya yang sudah berumur 6 bulan, dengan tinggi 3 meter, memiliki batang yang keras dan berkambium. serta tumbuh cabang di batangnya. Nahh itu dia juga, cabang pada pepaya itu jarang sekali, jadi seakan-akan pepaya itu tanaman monokotil karena cabangnya hanya satu, sama halnya seperti kelapa yang hanya punya satu tunas pada umumnya. Namun cabang ganda pada pepaya bukanlah hal yang langka, sering juga ditemui di alam liar maupun perkebunan, biasanya pada pohon yang sudah tua dan berumur.
Nahh, jadi semuanya dapat kita simpulkan bahwa pepaya itu sudah jelas tanaman dikotil, namun sering orang salah mengiranya itu tanaman dikotil, karena alasan :
1. Jarang terlihat memiliki cabang pada batangnya, seperti tanaman dikotil pada umumnya.
2. Memiliki batang yang lunak pada saat masih muda, dan jarang ada yang survive/bertahan hidup sampai usia tua sehingga orang-orang hanya melihat yang fase mudanya saja. (liar, lain halnya kalau di rawat)
Sekian itu saja isi dari artikel kita satu ini, jika ada yang rasanya janggal, monggo lanjut di kolom komentar!



Wahh, buah pepaya itu buah kesukaan saya hahaha 😋
ReplyDelete