Pupuk adalah salah satu komponen penting yang tidak bisa kita lupakan dalam bercocok tanam. Baik itu skala besar seperti di ladang dan pematang sawah maupun untuk skala kecil seperti di pekarangan rumah. Pupuk berguna untuk menambah unsur hara yang berada di dalam tanah dan mengoptimalisasi proses pertumbuhan tanaman. Pupuk sendiri terbagi kedalam 2 menurut unsur dasar pembuatannya, yakni organik dan anorganik.
Nahh, kali ini yang khusus kita bahas adalah pupuk organik. Pupuk organik adalah pupuk yang dibuat berdasarkan bahan-bahan organik yang telah mengalami dekomposisi (pembusukan). Pupuk organik memiliki kelebihan yakni lebih ramah lingkungan karena unsur yang terkandung didalamnya tidak berlebihan, contohnya kandungan nitrogen hanya sebesar 1% jauh berbeda dengan pupuk kimia seperti Urea yang bisa mencapai 46%, jika teman-teman kurang cakap dan tidak pandai dalam menakarnya lebih baik menggunakan pupuk organik. Karena pupuk organik dan semacamnya tidak memerlukan takaran dan perbandingan yang ribet.
Langsung saja kita langsung kepada proses pembuatannya. Pertama yang kita lakukan adalah mengumpulkan bahan-bahan dan alatnya, bahan-bahan yang diperlukan adalah segala macam sampah dapur dan sisa nabati seperti dedaunan yang sudah layu, kulit pisang, dan kulit bawang serta tanah secukupnya. Alangkah baiknya jika anda tidak memasukkan produk hewani seperti tulang ikan atau daging ayam, karenan nantinya akan menimbulkan bau busuk dan mengundang belatung yang bagi sebagian orang menjijikkan.
Untuk peralatannya sendiri, kita memerlukan gunting dan baskom/wadah. Gunting berguna untuk memotong dan menggunting dedaunan atau kulit buah yang terlalu besar menjadi potongan-potongan kecil agar mudah mengalami dekomposisi oleh mikroorganisme seperti bakteri. Wadahnya sendiri bertujuan sebagai tempat untuk memproses dan mengolah sampah tersebut menjadi kompos melalui proses pembusukan. Untuk wadahnya sendiri kita memiliki 2 metode ataupun teknik dalam cara pembusukannya, yakni:
1. Anaerob, atau yang disebut juga hampa udara (oksigen). Adalah suatu keadaan dari suatu wadah atau komposter yang mana tertutup sedemikian rapat dan tidak terjadi sirkulasi udara. Mikroorganisme yang berguna untuk pembusukan adalah bakteri yang tidak memerlukan oksigen agar dapat hidup. Metode ini lebih cocok digunakan di ruangan tertutup seperti dirumah karena tidak menimbulkan bau dan kemungkinan adanya belatung sangat sedikit.
2. Aerob, atau yang disebut dengan berudara (ada oksigen). Adalah suatu keadaan dari suatu wadah yang terbuka dan terdapat sirkulasi udara. Organisme yang bekerja dalam proses ini lebih beragam, seperti cacing, belatung, dan bakteri karena adanya oksigen yang memungkinkan mereka untuk hidup. Dalam metode ini, tidak disarankan untuk dilakukan di dalam ruangan karena akan menghasilkan bau dan metana dari hasil pembusukan.
Bagi yang bingung untuk menentukan mana yang terbaik, maka akan saya bantu pilihkan. Kali ini kita akan menggunakan metode anaerob. Yang kita perlukan adalah wadah (komposter) yang portabel dan mudah dibawa kemana-mana, serta murah harganya kalau bisa kita manfaatkan dari barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai agar membantu lingkungan dengan daur ulang. Saya rekomendasikan tong cat bekas yang sudah tidak terpakai. Biasanya kalau habis renovasi rumah atau baru bangun kios, maka ember cat adalah barang yang paling sering berserakan. Pastikan anda juga memiliki tutup tong catnya, karena kita akan membuatya kedap oksigen (Anaerob). Lubangi bagian bawah dari tong dengan solder atau besi panas, supaya nantinya lubang tersebut menjadi tempat untuk mengeluarkan cairan yang berlebihan.
Langkah-langkah dalam pembuatannya :
1. Masukkan tanah (usahakan cari yang gembur, hitam dan subur) pada dasar tong yang berlubang kecil secukupnya, hingga dasarnya tertutup semua oleh tanah.
2. Masukkan sampah-sampah tadi yang sudah dipotong-potong menjadi kecil kedalam tong
3. Timbun dan tutup lagi sampah di tong dengan tanah hingga semuanya tertutup dengan tanah
4. Siram dengan air secukupnya jangan terlalu kering dan jangan juga terlalu basah hingga banjir
5. Jika ingin memanfaatkan air sisa siraman yang disiram tadi, letakkan baskom dibawah tong, agar air yang kaya dengan unsur organik tersebut dapat disiram kembali ke tanaman dan tidak membuat lantai becek
6. Tutuplah tong dengan rapat supaya tidak bau, atau jika tidak punya penutupnya bisa diganti dengan dedaunan kering. Namun sebenarnya sudah tidak perlu, selama tanahnya menutupi semua sampahnya dengan baik tidak akan terciu bau busuknya.
7. Proses pengomposan memerlukan waktu setidaknya 3 minggu atau bahkan 1 bulan, tergantung cara pengolahannya. Kompos harus selalu dijaga kelembapannya namun jangan sampai kelebihan air
Yang perlu digaris bawahi disini adalah, jika ditemukan belatung yang menggeliat disekitar sampah maka itu adalah hal yang wajar. Nantinya belatung akan membantu proses dekomposisi dan perlahan akan mati karena kehabisan oksigen dan tidak sempat menjadi lalat. Hal ini bisa terjadi karena ada lalat yang bertelur di sampah sebelumnya. Dan proses pengomposan serta pembusukan ini menghasilkan panas dari gas metana sehingga akan membunuh organisme yang ada di dalamnya termasuk belatung, jadi jangan khawatir jika ada belatung. Sebenarnya belatung tidak memengaruhi kualitas dari kompos, namun mungkin ada sebagian orang yang geli melihatnya.
Sekian itulah langkah-langkah dalam membuat kompos dari saya, semoga bermanfaat untuk kita semua.



Post a Comment
Post a Comment